Secercah Hikmah Di Bumi Eropa #3: Islamophobia


Di jejaring sosial media ‘instagram’ , seseorang bertanya kepada saya: Ustadz, bagaimana perkembangan islam di eropa? Apakah masih ada islamphobia? Menurut pengalaman ustadz selama disana, bagaimana?

Perkembangan islam di Eropa sangatlah pesat. Adapun islamphobia apakah masih ada, maka jawabannya ada. Dan itu saya alami sendiri.

Contoh di Berlin: Saya bersama kawan-kawan panitia kajian ketika berada di pemberhentian train menunggu keberangkatan berikutnya, tiba-tiba ada petugas kebersihan sedang mengepel lantai. Namun tiba-tiba kaki kami dipel olehnya beberapa kali, namun untuk selain kami tidak dilakukan hal yang sama. Saya terus memperhatikan langkahnya, dan ternyata dia melakukan hal yang sama dengan pemudi muslimah berhijab yang berjarak beberapa meter dari kami. Hal ini saya alami sendiri, dan saat itu kami mengenakan busana muslim. Allahu a’lam apa motif dia untuk melakukan itu, alaa kulli hal, semoga Allah memberi hidayah untuknya.

Contoh lain: Perlakuan yang tak enak, saya alami pula di Swedia. Kita semua tahu bahwa saat ini, kita sedang dilanda musim corona hampir mengenai seluruh penjuru bumi. Alkisah, seseorang lelaki tiba-tiba berteriak di samping telinga kami dengan mengucapkan: "Corona!" sambil menutup hidung dengan tangannya. Kemudian dia pergi dan tertawa terbahak-bahak. Itu lah yang kami alami. Dan ketika itu, kami juga mengenakan busana Muslim.

Namun kejadian-kejadian ini sangat jarang terjadi. Hanya 2 kali saja, yang menunjukkan bahwa ini hanya dilakukan oleh oknum. Semoga Allah memberi hidayah iman kepada kita dan mereka semua.

Hikmah:

Kejadian ini tidaklah asing lagi, jika kita benar-benar menunjukkan identitas kita sebagai muslim di atas sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, seakan-akan kita memegang bara api. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang sebuah zaman kepada manusia, yang mana orang bersabar di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api” (HR. Tirmidzin no. 2260, shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

So, kita hanya dituntut untuk bersabar walau cobaan-cobaan itu sungguh menyakitkan. Cukup doakan hidayah untuk mereka, karena sejatinya mereka adalah kaum yang tidak tahu tentang kelembetuan dan kasih sayang agama islam.

Allahu a’lam, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Abdurrahman Al-Amiry

Posting Komentar

0 Komentar