Secercah Hikmah Di Bumi Eropa #4: Status “Wanita” Bukanlah Penghalang Dari Ilmu


Tidak afdhol rasanya jika mengunjungi sebuah negara namun tidak singgah di ibu kotanya. Hal itulah yang saya lakukan ketika berkunjung ke Swedia dengan bersinggah di kota Stockholm.

Cuaca begitu dingin, akan tetapi hal itu bukanlah rintangan besar bagi saya untuk menjajaki kota ini. Saya mengawali penelusuran dari Gamla Stan, kota tua yang mempelopori terbentuknya kota Stockholm.

Tidak sedikit bangunan-bangunan penting bersejarah yang berdiri kokoh di kota ini. Di antara yang saya kunjungi adalah Royale Palace atau istana raja Swedia, dan musium-musium, dan begitu pula tempat-tempat perbelanjaan untuk membawa cenderamata ataupun oleh-oleh.

Perlu diketahui, ada salah seorang wanita muslimah yang ditampakkan di salah satu musium di sini. Dia adalah peraih penghargaan nobel sedangkan umurnya ketika itu sungguh sangat muda yaitu 17 tahun. Dia adalah orang termuda yang mendapatkan penghargaan nobel untuk saat ini. Namanya adalah Malala. Dia adalah wanita muslimah yang berjuang untuk hak pendidikan bagi wanita di negaranya.

Namun saya tidak begitu tertarik untuk berbicara banyak tentang dirinya. Hal itu karena sudah ada pendahulu baginya dalam bidang ilmu dan pendidikan, yaitu ibunda Aisyah radhiyallahu anha. Aisyah telah meriwayatkan 2.210 hadits dan itu adalah jumlah yang sangat mengagumkan bagi para wanita, dan itu adalah jumlah yang besar dan  sangat banyak. Dan begitu pula ibunda Aisyah radhiyallahu anha telah melahirkan banyak murid yang kuat dalam bidang ilmu islam.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

مُسْنَدُ عَائِشَةَ : يَبْلُغُ أَلْفَيْنِ وَمائَتَيْنِ وَعَشْرَةِ أَحَادِيْثَ

“Musnad Aisyah mencapai 2.210 hadits” (Siyar A’lam An-Nubala’ 2/139)

Dan perlu pembaca ketahui pula, bahwa ulama mutaqaddimin terdahulu bisa menjadi orang unggul dalam bidang ilmu disebabkan karena ibu-ibu mereka. Di antaranya adalah imam Asy-Syafi’i dan imam Ahmad bin Hanbal rahimahumallah.

Dan bahkan di zaman dahulu, banyak para suami-suami yang hapal Al-Quran dengan sebab istri-istri mereka, dan kisah-kisah mereka termaktub pada kitab-kitab para ulama.

Pun halnya di zaman kita ada Hassanah dan Sukainah hafidzahumallah yang mana keduanya adalah putri dari syaikh Al-Albani rahimahullah. Keduanya telah membuat beberapa karya tulis di antaranya adalah ‘Ad-Dalil Ilaa Kitab Allah Al-Jalil”. Dan tentu bukan hanya mereka berdua, sesungguhnya ada banyak wanita muslimah yang mana mereka selalu bergelut dalam ilmu, dakwah, dan karya ilmiyyah.

Hikmah:

Status perempuan bukanlah penghalang dari jalan ilmu dan dakwah serta karya ilmiyyah. Karena wanita termasuk yang dituntut dan diwajibkan untuk menimba ilmu. Hal itu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Maka dari itu, untuk para wanita baik yang gadis ataupun ibu rumah tangga agar selalu menyibukkan diri dengan ilmu dan belajar. Walau sedang masak, maka selingilah dengan memutar kajian-kajian para asatidzah, apatah lagi di saat ini media ilmu benar-benar Allah tundukkan untuk kita semua. Tidakkah kita bersyukur kepada Allah?

Allahu a’lam.

Abdurrahman Al-Amiry

Posting Komentar

0 Komentar